Jumat, 15 Desember 2017

Perlukah Kita Natalan?

NATAL ADALAH URUSAN BESAR

Natal adalah peristiwa terbesar di kalender Inggris. Sejak awal Desember, topik utama dalam perbincangan adalah belanja Natal, persiapan untuk santap Natal, dan pengaturan acara kumpul-kumpul keluarga.

Dua minggu sebelum hari besar itu, dekorasi Natal mulai bermunculan di kantor: berjibun kartu Natal berdatangan lewat pos atau di kotak surat masuk, dan persediaan pai daging dan cokelat yang tak bakal habis dimakan kian menumpuk di ruang minum teh. Kelompok-kelompok penyanyi lagu-lagu Natal, diorganisir oleh badan-badan amal dan gereja, mencegat orang-orang di stasiun kereta untuk mencari sumbangan. Suka atau tidak, Natal sudah tiba. 

Bagi mereka yang tidak merayakan Natal, apa yang bisa dilakukan untuk menghindari situasi di atas? Bagi orang-orang non-Kristen, mereka tinggal bilang, "Saya bukan orang Kristen, saya tidak merayakan Natal." Bahkan orang juga bisa mengaku, "Saya atheis," atau "Saya ini Ksatria Jedi, tidak merayakan Natal." Sulit untuk mengatakan, "Saya Kristen, tapi tidak merayakan Natal."

Sebagai umat Kristen, kita terlibat dan berpartisipasi serta bersumbangsih secara aktif di masyarakat. Kita menghabiskan sebagian besar waktu kita bersama teman-teman, murid-murid, langganan, dan rekan kerja non-Gereja Yesus Sejati (1Kor. 5:8-10).

Dikotomi antara sesuatu yang dijabarkan Yesus sebagai "bukan dari dunia" (Yoh. 15:19) akan tetapi"ada di dalam dunia" (Yoh. 17:15) membingungkan banyak umat percaya: Seberapa jauh kita berbaur dengan masyarakat? Haruskah kita terlibat dalam kebiasaan dan kegiatan budaya setempat? Seandainya kita terlibat, di mana kita harus menarik garis batas yang tidak akan pernah kita seberangi? Bagaimana kita harus menanggapi perbedaan pendapat di antara jemaat Gereja Yesus Sejati mengenai hal ini?

Perpaduan antara Tradisi Pagan dan Agama

Natal yang kita kenal sekarang adalah peleburan dari tata cara, adat istiadat, dan kisah-kisah yang dihafal dan diturunkan dari generasi ke generasi. Beragam tradisi ini kurang ada kaitan jelas dan hubungannya dengan kepercayaan Kristen, bila kita tidak mau menyebut praktik ini berakar dari penyembahan berhala (paganisme).

Keluarga Kristen perayaan-Natal pada umumnya punya sebatang pohon Natal di ruang tamunya. Anak-anaknya yang masih kecil ikut berperan dalam drama kelahiran Yesus di sekolah. Keluarga dan sahabat saling bertukar kado yang oleh orangtua dan anak-anak dianggap berasal dari tokoh yang bernama Santa Claus.

Ada orang yang menelusuri asal-usul pohon Natal sampai ke era sebelum Kristen; pohon dan dahan digunakan dalam upacara-upacara di budaya kuno. Orang Mesir kuno, untuk merayakan titik balik matahari musim dingin (winter solstice – hari paling pendek dalam setahun), membawa pohon kurma muda ke dalam rumah sebagai simbol kehidupan yang mengalahkan kematian. Sewaktu orang-orang Romawi merayakan pesta Saturnus, dalam upacaranya ada acara menaikkan dahan pohon cemara (evergreen – pohon yang di musim dingin daunnya tetap hijau, tidak rontok). Orang-orang Skandinavia awal juga disebut-sebut sangat menghormati pohon-pohon cemara.

Mistletoe (sejenis benalu berbuah beri putih) punya tempat istimewa dalam perayaan Natal orang Inggris. Ranting mistletoe digantung di dalam rumah dan, menurut tradisi keriaan Natal, setiap orang yang saling bertemu di bawahnya harus berciuman. Tradisi ini berakar dari kepercayaan bahwamistletoe dapat memberikan kesuburan.

Sekarang ini, sekolah dan gereja mengadakan kunjungan ke panti-panti jompo dan menyanyikan lagu-lagu Natal populer di sana. Banyak keluarga yang menikmati tradisi Natal yang mengutamakan acara-acara komunitas, seperti menghadiri parade Natal.

Perayaan-perayaan Natal keagamaan yang memperingati kelahiran Yesus biasanya dipusatkan pada malam Natal. Gereja-gereja Katolik Roma merayakan misa Natal pertama pada tengah malam, dan gereja-gereja Protestan mengadakan kebaktian Natal berpenerangan lilin pada larut malam Natal. 

Tradisi Tanpa Iman
Terlepas dari latar belakang agama dalam Natal, di Inggris perayaan ini sudah nyaris tidak mengandung muatan agama sama sekali. Bagi banyak orang, Natal sudah turun makna menjadi penghamburan hadiah, makanan, dan pesta pora. Bahkan orang-orang atheis pun ikut menikmati musik musimannya, bergirang menerima kado istimewa dari keluarga dan sahabat, serta mengucapkan "Selamat Natal" kepada semua orang.

Pertanyaannya, salahkah bila kita ikut ambil bagian dalam perayaan yang sama sekali tidak mengandung muatan agama? Kita tidak bakal ditegur karena mengingat, menghormati, dan ambil bagian dalam perayaan Remembrance Day (hari besar tahunan yang dirayakan di Inggris pada Minggu kedua di bulan November untuk mengenang orang-orang yang tewas dalam perang).

Banyak jemaat Gereja Yesus Sejati yang menabukan segala hal yang berhubungan dengan Natal. Bila kita mengikuti pola pikir semacam itu, kita tidak boleh terlibat dalam segala aspek Natal: tidak ada makan siang Natal di kantin, tidak menerima kartu Natal, dan tidak menghadiri acara-acara Natal.

Tak diragukan, kebijakan "bumi-hangus" semacam ini dapat melindungi jemaat dari segala bahaya. Akan tetapi, kepatuhan buta tanpa disertai pengetahuan dan pengertian yang benar tidaklah lebih baik dari takhyul dan pada akhirnya tidak akan dapat bertahan menghadapi ujian waktu. Hanya bila kita mampu memahami dan menghayati kepercayaan kita melalui firman Allah dan Roh Kudus-lah, kita dapat berdiri teguh dan bertindak dengan penuh tanggung jawab dan akal sehat.

MEMEGANG PERINTAH ALLAH

Alkitab dengan amat jelas dan tegas mengingatkan kita untuk setia mematuhi perintah Tuhan. Umat pilihan tidak boleh mengikuti cara-cara bangsa-bangsa lain menyembah dewa-dewa mereka. Sebagai gambaran atas prinsip ini, Tuhan tidak mengizinkan adanya tiang dan berhala di dekat mezbah-Nya (Ul. 16:21,22). Kita tidak dapat menggantikan Allah dengan allah-allah lain, ataupun diizinkan untuk menetapkan cara ibadah di luar apa yang telah Ia perintahkan kepada kita (Ul. 12:2-4).

Menyembah berhala dan membakar anak (Ul. 12:31) adalah tindakan keagamaan yang oleh para pelakunya dipercaya dapat memunculkan tanggapan dari dewa-dewa mereka. Ke-450 nabi Baal berseru keras-keras dan menoreh-noreh diri (1Raj. 18:28), tapi tak ada khasiatnya. Sekalipun nabi-nabi palsu ini benar-benar mempercayai apa yang mereka lakukan, dewa-dewa mereka tidak mengabulkan panggilan mereka. Walaupun Iblis dapat menggunakan kesempatan ini untuk melaksanakan rencananya, kepercayaan yang salah tidak akan membawa manfaat apa-apa dan tidak ada khasiatnya.

Tuhan memerintahkan umat pilihan-Nya agar tidak menoreh-noreh diri atau menggunduli dahi demi orang mati (Ul. 14:1). Sebagai anak Allah, kita tidak boleh memperlakukan Tuhan sebagaimana bangsa-bangsa lain memperlakukan dewa-dewa mereka.

Musa memberitahu bangsa Israel:

"Jangan engkau berbuat seperti itu terhadap TUHAN, Allahmu; sebab segala yang menjadi kekejian bagi TUHAN, apa yang dibenci-Nya, itulah yang dilakukan mereka bagi allah mereka; bahkan anak-anaknya lelaki dan anak-anaknya perempuan dibakar mereka dengan api bagi allah mereka. Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu lakukan dengan setia, janganlah engkau menambahinya ataupun menguranginya." (Ul 12:31,32)

Larangan ini dapat diteliti pada tiga tingkatan.

Kepercayaan yang Salah

Setiap sistem, kepercayaan, atau praktik yang membangun kebenarannya sendiri sebagai pengganti kebenaran Allah, adalah keliru dan tidak dikenan Tuhan. Setiap sistem kepercayaan, yang dilakukan berdampingan dengan atau ditambahkan pada doktrin tradisional dan kepercayaan dasar, haruslah ditinggalkan (Kol. 2:16-23).

Baik Natal maupun perayaan kelahiran Yesus tidaklah memiliki pembenaran alkitabiah. Jika kita percaya bahwa menghadiri kebaktian Natal atau bahwa merayakan Natal adalah suatu keharusan, maka itu adalah kepercayaan yang salah. Kita tidak boleh terlibat dalam aktivitas seperti ini karena iman kita akan dikompromikan.

Kurang jernihnya iman kita dan kurangnya keyakinan kepada Tuhan seringkali menyebabkan iman dan perbuatan kita tercampur baur sehingga berkurang kemurniannya. Ini bisa berupa perbuatan sesamar membawa jimat keberuntungan yang memberikan ketenangan pikiran. Juga bisa berbentuk partisipasi aktif dalam ritual dan praktik keagamaan (Gal. 4:9,10; Kol. 2:16-23), atau giat berpantang makanan tertentu (Rm. 14:2).

Jika seseorang meragukan kepercayaannya sendiri, itu tidak berdasarkan iman, dan adalah dosa (Rm. 14:23). Demikian juga, percaya bahwa makan pai daging atau menggantung mistletoe di rumah dapat membawa keberuntungan adalah bertentangan dengan ajaran Alkitab. Kepercayaan semacam ini keliru dan tidak bermanfaat, hanya merusak.

Simbolisme

Simbolisme, baik dalam agama maupun dunia sekuler, memainkan peran penting dalam kehidupan kita. Merek-merek bergengsi merupakan simbol kekayaan, kedudukan, dan keistimewaan. Mengenakan gelang karet dengan warna tertentu melambangkan solidaritas dan dukungan pada lembaga atau idealisme tertentu.

Simbolisme juga memainkan peran yang sangat penting dalam Alkitab. Sunat merupakan bukti perjanjian antara Allah dan Abraham (Kej. 17:11); pelangi merupakan tanda perjanjian antara Allah dan bumi (Kej. 9:12,13). Tindakan mengikat firman Allah di tangan, menjadikannya lambang di dahi, menuliskannya di tiang pintu rumah dan pada pintu gerbang melambangkan ketaatan mutlak pada firman Allah (Ul. 6:8,9).

Simbol itu sendiri tidaklah bernilai apa-apa jika para pemegangnya tidak mengaktualisasikan nilai-nilai tersebut dalam hidup mereka; sebaliknya hanya akan menanamkan rasa aman yang palsu. Orang-orang Farisi memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang (Mat. 23:5) sebagai simbol kesalehan mereka; ini membuat mereka tidak mendapatkan pujian dari Yesus karena mereka lebih suka dipuji manusia daripada melakukan perintah Allah.

Yoel mengingatkan rakyat agar mengoyakkan hati dan bukan jubah mereka (Yl. 2:13). Kita harus peka terhadap apa yang kita pakai, bawa, dan lakukan.

Meletakkan pohon Natal di ruang tamu dapat melambangkan bahwa kita juga menganut nilai-nilai hari besar itu, yang bisa berarti minum berlebihan, menghadiri pesta liar, pergi ke perayaan keluarga dan perkumpulan sosial, atau merayakan kelahiran Yesus.

Sebagai jemaat Gereja Yesus Sejati, kita harus bertanya, "Apakah aku juga menganut nilai-nilai ini?" dan "Mengapa aku terlibat dalam hal-hal yang tidak aku setujui atau anut?" Jika kita tidak menganut nilai-nilai ini, untuk apa merayakan Natal?

Kerusakan Jasmani dan Rohani

"Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!" (1Kor. 6:20)

Allah sudah memilih kita dari dunia dan dunia membenci kita (Yoh. 15:19), namun Yesus tidak berdoa supaya kita dibawa keluar dari dunia (Yoh. 17:15). Sudah menjadi sifat manusia ingin disukai oleh orang-orang di sekitarnya: keluarga, teman, dan rekan kerja. Tetapi "keanehan" kita sebagai anak-anak Allah membuat kita terpisah dari dunia dan merupakan alasan mengapa dunia membenci kita (Yoh. 15:19). Semakin kita membaurkan diri dengan dunia ini, semakin kita disukai olehnya. Kita harus menyadari kerusakan rohani dan bahaya yang kita paparkan pada diri sendiri dan saudara-saudari seiman kita dengan berpartisipasi dalam aktivitas Natal.

Tindakan tukar-menukar hadiah Natal atau memasang pohon Natal di ruang tamu kita bukanlah dosa. Tetapi, itu merupakan bagian dari proses pembauran yang tanpa sadar akan kita anut.

Allah sudah memperingatkan umat-Nya dengan jelas dan tegas selama berabad-abad agar jangan mengikuti kebiasaan bangsa-bangsa lain (Ul. 8:19). Rangkaian firman kebenaran ini sekali dan selamanya sudah dipercayakan kepada orang-orang kudus dan diwariskan dari generasi ke generasi (Yud. 1:3; 2Tim. 1:13, 2:2). Kita tidak dapat mengabaikan atau mengubah firman Allah.

Setan biasanya mengubah perintah Allah secara tersamar dan berhasil menyebabkan orang jatuh dalam dosa (Kej. 3:4; Yud. 1:4). Kita harus berjaga-jaga agar tidak memberikan dasar bagi Iblis, dengan memahami bahwa kemurtadan merupakan suatu proses – seperti Lot yang setahap demi setahap memindahkan kemahnya mendekati Sodom (Kej. 13:12), kita pun lambat-laun akan menjauh dari kebenaran sewaktu memunguti tradisi dan cara-cara dunia.

TERLIBAT SECARA POSITIF DI DALAM DUNIA

Dalam Ul. 22:9-11, Tuhan memperingatkan kita agar jangan mencampurkan benih, binatang, dan kain yang berbeda jenis. Mengapa Tuhan mencemaskan benda-benda materi ini? Tidakkah Ia mengacu pada sesuatu yang lebih bermakna?

Yesus telah memberikan teladan yang baik untuk kita ikuti – Dia ada di dalam dunia tetapi tidak menjadi milik dunia ini. Dia didakwa karena makan dan minum, menunjukkan bahwa kadang kala Ia terlibat dalam aktivitas duniawi, seperti menghadiri perjamuan kawin. Tetapi di saat lain, Ia menjalani hidup bak pertapa, berdoa dan berpuasa.

Ia peka terhadap kebutuhan jasmani dan emosi orang lain dan tidak keberatan melanggar aturan (tradisi manusia) serta menyatakan ketidaksetujuan. Pragmatisme (cara menghadapi masalah dengan akal sehat, bijaksana, dan sederhana) seperti inilah yang harus kita tiru. Kita tidak aktif memeluk tradisi Natal dengan mengirimkan kartu Natal, memasang pohon atau hiasan Natal di ruang tamu kita, atau merencanakan pesta Natal di kantor atau universitas; kita juga tidak perlu melarikan diri dari suatu acara di masa Natal.

Kalau kita ikut serta dalam kegiatan-kegiatan di masa-Natal, seperti menghadiri santap Natal atau mengizinkan anak-anak kecil ikut berperan dalam acara Natal di sekolah mereka, kita harus mengajukan pertanyaan ini: Apakah kegiatan itu mengandung makna rohani baik bagi kita maupun bagi orang yang mengundang kita? Kalau jawabannya tidak, maka acara itu tidak ada bedanya dengan acara sekuler lainnya. Lalu kita harus bertanya: Apakah kita memaparkan diri terhadap kerusakan jasmani maupun rohani? Apakah kita mengirimkan sinyal yang salah kepada orang-orang yang lemah iman atau kebingungan? Kalau iya, lebih baik kita tidak ambil bagian dalam aktivitas seperti itu.

Dengan pola pikir yang benar, ikut serta secara pasif dalam acara-acara tertentu di masa-Natal bukanlah dosa, tahu bahwa itu tidak benar. Contohnya, menerima kartu Natal bukanlah dosa asalkan kita tahu bahwa ini hanyalah perwujudan niat baik dari seorang teman di masyarakat.

Namun demikian, kita tidak mau dianggap menganut nilai-nilai yang keliru. Jadi, kalau seorang teman mengundang kita untuk kumpul-kumpul semasa Natal, kita tidak perlu takut menerimanya. Tapi kita harus ingat bahwa kita harus mengenakan rupa Yesus ke mana pun kita pergi.

Vincent Yeung - Cambridge, UK

Sumber: Manna 56 / Warta Sejati 63
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...